Analisis Gimana Logo Brodo Membentuk Identitas Brand Sepatu Lokal yang Eksklusif
Logo Brodo – Sebagai seorang desainer grafis yang sudah cukup sering bergelut dengan dunia logo dan branding, saya percaya bahwa logo bukan sekadar gambar. Ia adalah “wajah” pertama sebuah brand yang bisa bikin orang jatuh cinta, atau malah langsung skip seperti pas lihat notifikasi grup WhatsApp keluarga.
Nah, kali ini saya ingin berbagi analisis saya tentang logo Brodo, sebuah brand sepatu lokal yang berawal dari hobi, ketidaksengajaan, hingga akhirnya bisa berdiri sejajar dengan brand internasional.
Kalau biasanya ayam identik dengan logo restoran makanan, Brodo justru berhasil menjadikannya simbol eksklusivitas. Kedengarannya aneh? Memang. Tapi justru di situlah letak kekuatannya.
Daftar Isi
ToggleHobi Baca Komik yang Jadi Inspirasi Nama Brand
Siapa sangka, nama Brodo muncul dari hobi membaca komik. Dua pendirinya, Yukka Harlanda dan Putera Dwi Karunia, awalnya cuma iseng mencari nama unik. Ternyata ketemulah kata “Brodo” yang dalam bahasa Italia berarti “kaldu ayam.” Nah, dari situlah kemudian muncul ide untuk menjadikan ayam sebagai personifikasi brand.
Agak absurd memang. Sepatu dikaitkan dengan ayam? Biasanya ayam kita temukan di warung penyetan, bukan di etalase sepatu kulit. Tapi Brodo membalikkan persepsi itu. Mereka membuktikan kalau simbol yang selama ini diasosiasikan dengan makanan bisa tampil elegan di industri fashion.
Evolusi Logo Brodo: Dari Eksperimen ke Elegansi
Kalau bicara logo, Brodo sudah melakukan satu kali rebranding besar. Dari sini kita bisa belajar bahwa logo bukanlah sesuatu yang sakral. Ia bisa berubah mengikuti arah strategi brand.
Logo Pertama: Encrust Typography
Logo pertama Brodo memanfaatkan teknik encrust, yaitu kombinasi huruf yang disusun sehingga menyerupai siluet ayam. Buat saya pribadi, ini adalah ide yang super kreatif dan memorable. Logo ini tidak hanya menampilkan nama brand, tapi juga menyelipkan simbol yang memperkuat identitas.
Bayangkan saja, orang baca tulisan “Brodo,” lalu tiba-tiba ngeh, “Lho, kok kayak ayam, ya?” — efek “aha moment” inilah yang bikin logo pertama punya daya tarik kuat.
Logo Kedua: Sederhana tapi Aman
Seiring waktu, Brodo memutuskan untuk mengganti logonya menjadi lebih simpel. Bentuk ayam masih dipertahankan, tapi dengan gaya lebih clean dan mudah diingat. Secara branding, keputusan ini masuk akal. Semakin besar sebuah brand, semakin penting memiliki logo yang fleksibel dan gampang diaplikasikan di berbagai media — dari kemasan, toko, sampai aplikasi mobile.
Meski begitu, saya pribadi merasa logo pertama lebih “nakal” dan out of the box. Logo kedua memang aman, tapi kehilangan sedikit keunikan. Ya, ibaratnya seperti teman kita yang dulu suka ngelucu, sekarang mendadak jadi serius karena sudah kerja kantoran.
Kenapa Logo Brodo Efektif dalam Branding?
Ada beberapa alasan kenapa logo Brodo bisa dianggap efektif:
- Unik dan Anti-Mainstream
Siapa yang kepikiran bikin logo sepatu dengan ikon ayam? Hampir tidak ada. Keunikan ini penting dalam branding, apalagi untuk keperluan legalitas HAKI.
- Unik dan Anti-Mainstream
-
- Eksklusif, Bukan Pasaran
Meski memakai ayam, Brodo berhasil mengemasnya jadi elegan. Itu sebabnya, harga sepatu mereka yang rata-rata di atas Rp300.000 tetap laku keras. Logo tidak terlihat seperti logo warung ayam geprek, melainkan memberi nuansa berkelas.
- Eksklusif, Bukan Pasaran
-
- Fleksibel dalam Media
Dari logo lama yang detail hingga logo baru yang simpel, keduanya tetap mudah diaplikasikan pada produk dan materi promosi.
- Fleksibel dalam Media
Cerita Brodo: Dari Modal Nekat hingga Jadi Brand Nasional
Sekilas sejarah Brodo juga layak kita bahas, karena logo tidak bisa dilepaskan dari perjalanan brand. Yukka dan Putera, dua lulusan Teknik Sipil ITB, memulai usaha ini dari masalah pribadi: susah cari sepatu formal ukuran besar dengan harga terjangkau.
Dengan modal Rp3,5 juta per orang, mereka memesan sepatu di Cibaduyut, Bandung. Produk pertama mereka, semi-boots kulit bernama Signore, langsung laris manis di kalangan teman kampus. Dari situ lahirlah Brodo.
Yang menarik, mereka tidak sekadar jualan sepatu, tapi juga membangun citra bahwa sepatu kulit tidak harus mahal. Bahkan Brodo pernah jadi cendera mata resmi Asian Games 2018, bukti pengakuan bahwa produk lokal bisa naik kelas internasional.
Analisis Branding Logo Brodo: Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Sebagai desainer grafis, ada beberapa poin pelajaran dari perjalanan logo Brodo:
1. Inspirasi Bisa Datang dari Mana Saja
Nama dan logo Brodo muncul dari hal sederhana: membaca komik. Jadi kalau kamu lagi kehabisan ide, jangan remehkan aktivitas kecil. Siapa tahu inspirasi datang pas lagi scrolling meme atau nonton anime.
2. Jangan Takut Beda
Menggunakan ayam sebagai simbol sepatu jelas bukan ide umum. Tapi justru keberanian inilah yang membuat Brodo menonjol. Dalam branding, terkadang yang “aneh” justru lebih gampang diingat.
3. Evolusi Itu Wajar
Logo bisa berubah seiring berkembangnya brand. Jangan terjebak pada satu desain selamanya. Yang penting, identitas inti tetap dipertahankan.
Di Mana Bisa Melihat Logo dan Produk Brodo?
Kalau kamu penasaran dengan logo Brodo terbaru, langsung saja mampir ke situs resminya brodo. Di sana, kamu bisa melihat bagaimana logo diaplikasikan di berbagai produk, mulai dari sepatu kulit, sneakers, sampai apparel.
Selain itu, Brodo juga punya beberapa toko offline di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Makassar. Jadi kalau kamu tipe orang yang harus mencoba sepatu langsung sebelum beli, bisa banget datang ke store mereka.
| No | Nama | Alamat |
| 1 | Brodo Kemang | Jl. Kemang Selatan VIII No.55, RW.2, Bangka, Kec. Mampang Prpt., Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12730 (0821-8477-1510) |
| 2 | Brodo Bandung | Jl. Lombok No.11, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40113 (0822-4684-7084) |
| 3 | Brodo Surabaya | Tunjungan Plaza Mall 2 Lantai 1, Jl. Basuki Rahmat No.8-12, Kedungdoro, Kec. Tegalsari, Surabaya, Jawa Timur 60261 (0821-3131-7926) |
| 4 | Brodo Aceh | Jl. Tgk Jl. T. Panglima Nyak Makam No.88, Lambhuk, Kec. Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, Aceh 23118 (0823-2014-6478) |
Kenapa Brodo Layak Dibeli?
Oke, saya tahu kamu mungkin bertanya: “Kenapa harus beli Brodo, padahal banyak brand sepatu lokal lain?”
1. Kualitas Handmade dari Cibaduyut – Sepatu Brodo dirakit oleh pengrajin lokal dengan standar tinggi.
2. Harga Lebih Terjangkau – Dibanding brand internasional dengan kualitas setara, Brodo menawarkan harga yang lebih bersahabat.
3. Identitas Brand yang Kuat – Dengan logo Brodo yang unik, kamu tidak hanya beli sepatu, tapi juga jadi bagian dari cerita brand lokal yang inspiratif.
Logo Brodo dan Pelajaran Branding
Bagi saya, logo Brodo adalah contoh nyata bagaimana simbol yang tidak lazim bisa diolah menjadi identitas brand yang kuat. Dari logo ayam yang awalnya terkesan absurd, kini berubah jadi ikon eksklusif di dunia fashion lokal, terutama di industri sepatu.
Pelajaran yang bisa kita ambil? Jangan takut bereksperimen, jangan takut terlihat aneh, dan jangan lupa bahwa setiap logo punya cerita yang membentuk brand di baliknya. Bahkan sosok ayam pun bisa jadi logo brand sepatu terkenal.
Dan kalau ada yang bilang logo ayam itu cuma cocok untuk warung makan, saya akan jawab: “Ya nggak juga, buktinya Brodo laku keras. Coba aja bikin warung ayam pakai logo sepatu, siapa tahu sukses juga!” 😁
Artikel – Logo Brodo
Penulis
reziart
Reza Pahlevi, juga dikenal sebagai reziart, adalah seorang penulis dan desainer grafis di Vectorinesia.com. Dia adalah pemilik Vectorinesia Studio dan Toko Amanasnack. Cita-citanya adalah membuat UMKM Indonesia memiliki brand visual yang keren dan bersaing global. Misi utamanya adalah memberikan jasa desain logo terjangkau melalui Jasa Desain Logo di Studio Vectorinesia. Reza memiliki pengalaman dalam menjual aset grafis di berbagai website microstock terkenal.

