Oreo Blackpink: Ketika Branding, Musik, dan Koleksi Bertabrakan Jadi Hype Besar
Daftar Isi
ToggleOreo Blackpink
Oreo Blackpink – Sebagai desainer grafis, saya terbiasa membahas topik seputar logo, visual identity, dan hal-hal yang masih sejalur dengan dunia kreatif. Tapi kali ini, saya agak “meleset dikit”, karena yang ingin saya bahas adalah fenomena di balik oreo blackpink—kolaborasi yang sempat bikin minimarket Indonesia nafas ngos-ngosan pada tahun 2023.
Dan jujur, sebagai orang desain, saya kadang kepo juga: kok bisa sih sebuah biskuit bikin segini banyak orang rela muter-muter sampai enam minimarket? Ya wajar kalau sebuah sneaker limited edition atau album photobook Blackpink yang bikin geger. Tapi biskuit? Ini menarik dari sisi branding.
Next mungkin kita akan bahas dari sisi logo blackpink, karena menurut saya itu juga menarik untuk dibahas lebih lanjut.
Kilas Balik Hype Besar Oreo Blackpink
Sedikit saya akan bahas bagaimana kondisi kampanye Oreo di 2023 lalu. Karena Oreo adalah entitas bisnis yang usianya udah sepuh banget. Tentunya strategi mereka patut kita pelajari.
Kolaborasi yang Tidak Hanya Soal Biskuit
Kalau kamu masih ingat, kampanye kolaborasi Oreo × Blackpink ini bikin timeline penuh warna pink dan hitam. Bagian yang bikin saya terheran adalah betapa seriusnya Oreo menggarap ini.
Menurut MMA Global, kampanye “BlackPinkXOreo” punya beberapa elemen kunci:
- Ada pesan personal menggunakan AI dari member Blackpink ketika konsumen scan kemasan.
- Ada photocard collectible yang jumlahnya dibatasi sampai 10 desain.
- Ada aktivasi TikTok berupa filter, challenge, dan brand effect yang bikin jutaan orang ikut lip-sync.
- Dari sisi bisnis, Oreo berhasil mengumpulkan 125.000 profil konsumen untuk retargeting, dan mengarahkan traffic ke marketplace seperti Shopee dan Lazada.
Ini bukan sekadar jualan biskuit. Ini ecosystem marketing.
Efeknya? Gila juga:
- 16,2 juta likes
- 91 ribu komentar
- 2 juta video user-generated
- 28% peningkatan penjualan di Asia Tenggara
Sebagai desainer grafis, saya cuma bisa bilang: ini bukan campaign ecek-ecek, ini campaign level global brand yang ngulik banget insight konsumen.
Cerita dari Lapangan – BLINK Berburu Oreo
Mungkin kamu gak tau gimana kehebohan di lapangan. Ini adalah rangkuman yang berhasil saya dapatkan.
Minimarket yang Tak Sempat Nafas
Di Indonesia sendiri, BLINK langsung mengamuk dalam arti positif. Banyak testimoni yang waktu itu berseliweran:
- Barang belum masuk rak → sudah habis.
- Toko belum buka dusnya → sudah ada yang nanya.
- Ada yang hunting sampai 4–5 minimarket → tetap lanjut walau lelah.
- Dalam sekali transaksi, satu orang bisa membeli 4–6 multipack.
Ini bukan pernyataan marketing, tapi cerita nyata pembeli. Bahkan beberapa penjaga minimarket mengaku tidak sempat “display” barang karena langsung ludes.
Serem? Iya. Seru? Juga iya.
Photocard, The Real MVP
Kamu pasti sudah tau: kekuatan utamanya bukan di biskuitnya. Tapi di photocard.
Egi (25), salah satu BLINK dari Jakarta, sempat bilang kalau:
- Kemasan Oreo Blackpink cantik dan punya detail visual ala MV mereka.
- Photocard-nya lucu dan worth dikoleksi.
- Rasanya… ya rasa Oreo. (Dan ini lucu sih, karena biskuitnya jadi nomor dua.)
Ini menunjukkan bagaimana nilai emosional bisa mengalahkan nilai fungsional. Sebagai desainer grafis, saya sering lihat fenomena seperti ini dalam dunia merch: yang dijual bukan benda, tapi experience dan sense of belonging.
Kondisi Terbaru Oreo Blackpink di November 2025 – Masih Ada yang Jual?
Jawabannya: masih, tapi sifatnya pasar sekunder.
Saya cek beberapa marketplace, dan benar prediksi saya: stok resmi sudah tidak ada. Tapi reseller? Wah, masih semangat 45.
Kisaran Harga di Shopee:
- Rp98.000
- Rp49.000
- Rp33.500
- Rp12.000
Kisaran Harga di Tokopedia:
- Rp17.500
- Rp19.000
- Rp39.000
- Rp99.000
Bahkan ada yang menjual full set photocard sampai Rp500.000.
Kalau kamu tanya:
“Bang, biskuitnya masih ada ga?”
Ada sih, tapi kadaluarsa itu dekat dengan maut. Saya pribadi… yaa, makasih deh. Makan Oreo expired? Saya masih sayang tenggorokan saya.
Oreo 171 Gram – Kenapa Banyak Dicari?
Sebagai desainer yang juga suka ngulik kemasan, saya lumayan penasaran kenapa yang 171 gram ini jadi primadona. Setelah saya telusuri:
- Ini adalah versi multipack berisi 6 bungkus.
- Biasanya jadi starter pack para kolektor karena kemungkinan besar ada photocard di dalamnya.
- Dirilis sebagai limited edition. Dan memang mekanik “limited edition” itu selalu berhasil memancing impuls beli.
Fun fact: Teknik limited scarcity ini disebut oleh Kotler (ya, bapaknya marketing) sebagai scarcity appeal—yang meningkatkan persepsi nilai meski produknya sama.
Sebagai desainer grafis, saya nggak mendalami teori-teori kompleks marketing, tapi saya cukup tau bahwa “limited edition + fandom” adalah kombinasi yang jarang gagal.
Bandingkan dengan Kampanye Terbaru – Baby Monster
Di November 2025 ini, Oreo sedang berkolaborasi dengan Baby Monster, dan… jujur, campaign-nya tidak seheboh Blackpink.
Bukan berarti buruk, tapi hype sebesar Blackpink itu fenomena yang agak susah ditiru. BLINK itu salah satu fandom paling aktif di dunia, dan merek manapun pasti merasa beruntung kalau bisa bikin campaign bersama mereka.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Oreo Blackpink sebagai Desainer Grafis?
1. Visual yang kuat bisa memicu impuls beli
Warna hitam dan pink khas Blackpink langsung terasa bahkan dari kejauhan. Ini membuktikan pentingnya desain kemasan yang:
- Konsisten dengan identitas brand kolaborator
- Menonjol dalam rak minimarket
- Mudah dikenali oleh fans
2. Kolaborasi = nilai tambah, bukan sekadar tempel logo
Kolaborasi Oreo × Blackpink tidak hanya tempel foto artis. Ada teknologi AI, ada gamifikasi, ada collectible item.
Sebagai desainer grafis, ini mengingatkan saya bahwa kolaborasi yang baik harus menyentuh:
- aspek visual
- aspek pengalaman
- aspek emosi
3. Limited edition itu magnet terbesar dalam branding populer
Keterbatasan stok meningkatkan persepsi nilai. Dan ini bukan hal baru. Bahkan di dunia sneakers, hal ini sudah jadi norma.
Dalam konteks Oreo, pembatasan durasi campaign membuat produknya berubah dari biskuit biasa menjadi memorabilia.
Kesimpulan
Fenomena oreo blackpink adalah bukti bahwa branding, fandom, dan pengalaman digital bisa bersinergi menciptakan hype luar biasa. Walaupun sekarang produknya sudah menghilang dari rak minimarket, jejak kampanyenya tetap jadi studi menarik tentang bagaimana sebuah brand bisa masuk ke kultur pop dan menjadi bagian dari percakapan besar.
Dan bagi saya sebagai desainer grafis, ini adalah contoh sempurna bahwa desain bukan hanya tentang estetika—tapi juga tentang bagaimana visual bisa menggerakkan perilaku manusia.
Kalau suatu hari Oreo bikin kolaborasi sama desainer grafis? Wah, mungkin saya bakal ikut hunting juga. Tapi tentu bukan untuk dimakan. Untuk… ya jelas, fotonya.
FAQ
Apa itu Oreo Blackpink?
Oreo Blackpink adalah edisi khusus biskuit Oreo yang dirilis sebagai bagian dari kolaborasi dengan girlband Korea Selatan, Blackpink. Edisi ini menampilkan desain tiara yang merupakan ciri khas Blackpink dan biskuit berwarna pink.
Bagaimana pendapat BLINK (penggemar Blackpink) tentang Oreo Blackpink?
Saat itu, BLINK di Indonesia menyambut antusias edisi khusus ini. Banyak yang bersemangat untuk mengumpulkan photocard yang tersedia dalam paket Oreo Blackpink, meskipun mengalami kesulitan menemukannya di beberapa minimarket.
Dimana saya bisa membeli Oreo Blackpink?
Oreo Blackpink tersedia di minimarket-minimarket di daerah Jabodetabek, namun karena tingginya permintaan, produk ini sering kali cepat habis terjual. Dan saat ini sudah resmi tidak ada.
Apa yang membuat Oreo Blackpink spesial?
Selain desainnya yang unik, Oreo Blackpink juga menawarkan perpaduan cita rasa baru dengan biskuit sandwich berwarna pink dan krim cokelat di bagian tengah.
Apakah Oreo Blackpink tersedia di luar Indonesia?
Oreo Blackpink edisi eksklusif ini pertama kali dirilis di Indonesia dan kemudian didistribusikan ke negara-negara Asia lainnya seperti Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Korea Selatan.
Artikel – Oreo Blackpink
Penulis
reziart
Reza Pahlevi, juga dikenal sebagai reziart, adalah seorang penulis dan desainer grafis di Vectorinesia.com. Dia adalah pemilik Vectorinesia Studio dan Toko Amanasnack. Cita-citanya adalah membuat UMKM Indonesia memiliki brand visual yang keren dan bersaing global. Misi utamanya adalah memberikan jasa desain logo terjangkau melalui Jasa Desain Logo di Studio Vectorinesia. Reza memiliki pengalaman dalam menjual aset grafis di berbagai website microstock terkenal.

